Peristiwa

Berikut adalah 5 Temuan Polisi Mengenai Kerusuhan Aksi 22 Mei

May 16, 2019

Aksi 22 Mei berakhir. Tindakan yang dimulai dengan damai tampaknya telah berakhir dengan kekacauan. Tidak hanya itu, banyak korban berjatuhan.

Aksi 22 Mei membawa ratusan korban, bahkan sampai mati. Polisi tidak tinggal diam. Mereka mencari dalang di balik kekacauan aksi tersebut.

Polisi menemukan bukti baru mengenai kerusuhan 21-22 Mei 2019 yang terjadi di beberapa titik di Jakarta. Yang terbaru, kelompok pendukung polisi ISIS berupaya untuk naik ke Aksi 22 Mei.

Selain itu, sebanyak 300 orang yang diamankan oleh polisi telah ditetapkan sebagai tersangka. Hingga saat ini 300 tersangka masih diperiksa secara intensif.

Berikut adalah 5 Temuan Polisi Mengenai Kerusuhan Aksi 22 Mei
Berikut adalah 5 Temuan Polisi Mengenai Kerusuhan Aksi 22 Mei

Berikut ini adalah temuan polisi yang terungkap dari aksi 22 Mei:

1. Diduga Dikuasai ISIS

Polisi menemukan bukti baru mengenai kerusuhan 21-22 Mei 2019 yang terjadi di beberapa titik di Jakarta. Yang terbaru, kelompok pendukung polisi ISIS berupaya untuk naik ke Aksi 22 Mei.

Kepala Inspektur Jenderal Humas Polisi Indonesia M Iqbal mengatakan, temuan itu diungkapkan berdasarkan investigasi terhadap dua tersangka perusuh yang ditangkap oleh Kepolisian Daerah Metro Jaya.

“Dua tersangka dari luar Jakarta yang berafiliasi dengan kelompok Garis (Gerakan Reformasi Islam). Kelompok Garis berafiliasi dengan kelompok-kelompok tertentu,” kata Iqbal di Kementerian Koordinator Politik dan Keamanan, Kamis, 23 Mei 2019.

Berdasarkan pernyataan kedua tersangka diketahui bahwa kelompok ini ingin melakukan amaliyah atau jihad pada 22 Mei di Badan Pengawas Pemilu, Jl Thamrin, Jakarta, 21-22 Mei.

“Kami menemukan bukti sangat kuat,” kata Iqbal.

Iqbal mengatakan, kelompok garis ini adalah kelompok yang pernah menyatakan atau berjanji untuk mendukung kelompok-kelompok teroris ISIS.

“Dan mereka juga mengirim kader mereka ke Suriah. Perlu dikatakan, perbaiki ada kelompok yang memperjuangkan kegiatan demonstrasi ini berbagai kelompok yang berafiliasi dengan ISIS,” kata Iqbal.

Saat ini polisi telah mengantongi identitas tokoh Garis. “Ada satu atau dua toko yang kami kejar dari pernyataan dua tersangka yang diamankan oleh Kepolisian Daerah Metro Jaya,” kata Iqbal.

2. Empat Orang Narkotika Positif

Polisi menangkap 257 perusuh yang tersebar di beberapa titik di wilayah Jakarta pada tanggal 21 dan 22 tahun 2019 seperti di Bawaslu, patung kuda, Sarinah, Menteng, Gambir, sekitar Slipi, dan Petamburan. Empat dari mereka positif menggunakan narkoba.

“Apa yang telah diamankan oleh Polda Metro Jaya adalah 257 orang, itu banyak tato. Lalu ada 4 orang pengidap narkoba yang positif. Bagaimana mereka menunjukkan jika mereka menggunakan obat-obatan positif,” kata Kepala Divisi Humas Kepolisian Nasional Inspektur M Iqbal.

Iqbal mengatakan, dari 2 tersangka perusuh 21 dan 22 Mei 2019 dari luar Jakarta yang berafiliasi dengan kelompok Garis. Dari pernyataannya, mereka berniat untuk memperjuangkan demonstrasi 21 dan 22 Mei.

“Kami menemukan bukti yang sangat kuat. Kami berdua tahu bahwa kelompok garis ini telah menyatakan pernyataan sebagai pendukung ISIS Indonesia. Dan mereka telah mengirim kader mereka ke Suriah. Ini penting untuk mengatakan, ada kelompok pendukung untuk kelompok demonstrasi ini yang berafiliasi dengan ISIS. , “kata Iqbal.

Dia mengatakan, ada dua pemimpin kelompok yang masih dalam pengejaran berdasarkan kesaksian 2 tersangka dalam kelompok Garis.

Dia menambahkan, ada juga sekelompok orang yang telah ditangkap memiliki senjata api dengan peredam suara. Pihaknya juga menangkap 3 tersangka yang juga membawa 2 senjata api.

“Pertama laras panjang dan 1 laras pendek. Ini adalah kelompok yang berbeda. Garis, kelompok afiliasi ISIS secara terbuka tahu bahwa kelompok ini tidak bermain-main jika mereka tidak menyukai mereka. Jika kelompok senjata ini berbeda. Grup yang ingin memprovokasi Kerusuhan. Mereka ingin menciptakan martir jika ada korban, “kata Iqbal.

Iqbal mengatakan bahwa dia akan terus mengembangkan temuan karena banyak kelompok mengendarai aksi damai pada 21 dan 22 2019 di Jakarta.

“TNI dan Polri mengimbau masyarakat untuk tidak turun ke jalan untuk menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan,” katanya.

3. Tetapkan 300 orang untuk menjadi tersangka

Hingga saat ini, polisi mengamankan sekitar 300 orang yang diduga terlibat dalam kerusuhan di sejumlah tempat di Jakarta pada 21-22 Mei 2019.

300 dari orang-orang ini telah ditetapkan sebagai tersangka. Hingga saat ini 300 tersangka masih diperiksa secara intensif.

“Ya (semua) telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di Kepolisian Daerah Metro Jaya, kemudian di Kantor Polisi Jakarta Barat dan beberapa di pusat,” kata Kepala Biro Informasi Publik Divisi Markas Besar Kepolisian Nasional, Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo.

Dedi mengatakan, saat ini partainya sedang memilah dan mengklarifikasi peran masing-masing orang di lapangan. Pihaknya memilah-milah siapa yang bertugas sebagai koordinator lapangan atau aktor intelektual.

Termasuk juga menyortir bukti yang ditemukan oleh pasukan keamanan di lapangan dan melacak apakah ada pemasok barang yang ditemukan.

Dari sejumlah lokasi kerusuhan, polisi menemukan sejumlah barang bukti berupa uang dalam denominasi rupiah dan dolar, bom molotov, benda tajam, senjata tajam seperti parang, arit, dan petasan dengan berbagai ukuran.

“Semuanya dieksplorasi, termasuk kendaraan juga dieksplorasi oleh penyidik. Biarkan pemeriksaan diselesaikan terlebih dahulu. Sesuai dengan hasil pemeriksaan, penyortiran akan dipenuhi sesuai dengan peran masing-masing dalam kerusuhan desain yang mereka lakukan,” jelasnya.

Selama kerusuhan, massa juga menyerang petugas dengan petasan. Dedi mengatakan, pihaknya juga akan mencari tahu siapa pemasok petasan itu karena mereka diperkirakan cukup banyak dan dengan berbagai ukuran.

“Semuanya akan dieksplorasi, dari mana dia mendapatkan petasan, lalu siapa yang memerintahkan mereka untuk menggunakan petasan untuk memprovokasi itu. Itu juga dapat membawa keselamatan bagi orang-orang itu sendiri dan pasukan keamanan,” jelasnya.

Dedi mengatakan, 300 orang ini berasal dari Banten, Jawa Barat, dan DKI Jakarta. Mereka dibayar Rp. 300 ribu per hari. Mereka langsung dibayar pada hari itu.

“Jawa Barat, Banten, hanya sisanya yang benar-benar preman Tanah Abang. Ya, Preman Tanah Abang dibayar,” katanya.

4. Panggil Korban Meninggal 7 Orang

Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Inspektur Jenderal Polisi Nasional Indonesia Muhammad Iqbal mengatakan bahwa total korban jiwa dari kerusuhan 22 Mei berjumlah 7 orang.

“Tujuh korban sudah memasuki kita. Mereka yang masuk, siapa tahu yang belum masuk,” kata Iqbal.

Sedangkan dari kepolisian tidak ada yang meninggal karena kerusuhan pada 22 Mei. Yang ada hanya luka-luka.

“9 orang terluka, itu bisa saja meningkat,” kata Iqbal.

Dia menekankan bahwa orang mati adalah perusuh. Bukan dari massa aksi damai atau orang biasa.

“Itulah yang harus diketahui publik, bahwa orang mati adalah perusuh. Bukan massa yang menjual, massa yang menyembah, bukan,” pungkasnya.

5. Membentuk Tim Investigasi

Iqbal juga mengatakan, atas perintah Kepala Kepolisian Nasional, Jenderal Polisi Tito Karnavian, Kepolisian Nasional telah membentuk sebuah tim untuk membunuh para korban gerombolan yang mengambil tindakan 21 dan 22 Mei 2019.

“Untuk alasan ini, Kapolri telah membentuk tim. Membentuk tim investigasi yang dipimpin oleh Irwasum Polri,” kata Iqbal.

Tujuan pembentukan tim adalah untuk mencari penyebab kematian selama 21 dan 22 Mei 2019, apalagi ada pihak yang menyebutkan luka tembak. “Untuk mencari tahu apa penyebabnya dan semua aspek,” jelas Iqbal.

Dia menegaskan, mereka yang meninggal adalah gerombolan perusuh selama 21 dan 22 Mei 2019. Bukan dari massa yang melakukan aksi damai, atau orang biasa.

“Itulah yang harus diketahui publik, bahwa orang mati adalah perusuh. Bukan massa yang berjualan, massa yang beribadah, tidak. Sudah membentuk tim investigasi terhadap dugaan membunuh 7 perusuh,” kata Iqbal.

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply